>> Translate This web page into English with Google <<

PUAS

ATAS KEBERHASILAN

YANG TELAH TERCAPAI

SECARA WAJAR,

MAKA

MANUSIA

SENANTIASA

BERBAHAGIA.

(Terjemahan bebas oleh JTN)

“Tahu diri dan puas atas yang telah diperolah”

Orang pinter tahu tentang makna “tahu diri dan puas atas yang telah diperolah”, menerima sesuatu yang tidak dapat dihindari, tidak memaksa diri untuk mencapai ambisinya : juga tidak iri atau mengagumi orang lain, dia rela hidup sederhana.


Bagi orang yang lebih pinter lagi, dia sadar bahwa semua yang menimpa dirinya sekarang adalah akibat dosa berat di masa hidup lalu, maka dia menjunjung tinggi Tri Ratna (Buddha, Dharma, Sangha), dia sendiri berusaha bertobat, dan sedapat mungkin berbuat amal, agar menghapus dosa masa lalunya, supaya “nasib baik” lebih cepat datang.


Bila anda merasa hidup masa kini cukup menyenangkan, maka anda harus lebih menjujung tinggi Tri Ratna, konsentrasi dalam membaca doa-doa Buddha, berbuat amal sedapat mungkin, agar nasib baik anda tidak putus dan terus berlanjut. Sebab semua ini adalah buah hasil dari perbuatan bersedekah, menjunjung tinggi Tri Ratna dan dengan tulus membaca doa-doa Buddha di masa hidup lalu.


Ada sebuah peribahasa yang telah mengatakan bahwa “Jika ingin tahu apa yang telah dilakukan pada masa lalu (sebagai sebab), maka lihat saja apa yang telah diterima pada masa hidup kini: jika ingin tahu apa buah hasil yang akan diterima pada masa hidup berikutnya, maka lihat saja apa yang telah dilakukan sekarang”.

“Anak cucu memiliki keberuntungan mereka sendiri “

Bila nasibnya baik, anda tidak perlu meninggalkan sesuatu padanya, asalkan dia mau kerja keras, dengan sendirinya dia akan kaya raya dan semuanya berjalan beres. Bila dia bernasib buruk, walau ditinggalkan harta berlimpah, akhirnya akan bangkrut juga, bahkan bisa kehilangan nyawanya. Terutama dalam hal pembagian harta antara saudara, harus adil agar tidak terjadi perselisihan.


Pernah ada orang tua yang sangat sayang pada putra ketiganya, maka saat pembagian tanah sawah, dia membiarkan putra ketiga memilih lebih dulu. Si anak memilih dengan seksama, lalu memilih tanah yang letaknya ditepi jalan, karena dia pikir akan harga tanah tersebut akan cepat meningkat. Sialnya tanah tersebut dibeli oleh pemerintah untuk pelebaran jalan. Dan lebih sial lagi, dia jatuh sakit pada usia 30 tahun, dan akhirnya meninggalkan dunia. Untung saudara-saudaranya berbaik hati, maka mereka membagikan sejumlah tanah kepada anak-anaknya. Bila dahulu dia bisa membagi tanah tersebut dengan adil, mungkin nasibnya tidak begitu tragis.


Tentu, saya tidak menganjurkan anda supaya menghabiskan simpanan anda yang diperolah dengan susah payah, tetapi pergunakanlah ditempat yang paling bermakna / bermanfaat. Lagi pula harus mendorong anak-anak supaya berindak jujur pada orang lain, bertanggung jawab, berbakti pada orang tua dan membantu sesama pada setiap kesempatan. Saya yakin hal ini jauh lebih baik daripada mewariskan harta kekayaan yang berlimpah pada anak-anak.



“Berbakti kepada orang tua”

Bila anda ingin berbakti kepada orang tua, agar orang tua berumur panjang dan bila kelak ajal mereka sudah tiba dapat meninggal dengan tenang, maka mempengaruhilah orang tua anda agar mereka mau beramal.


Bila Anda ingin agar suami istri hidup rukun, keluarga senantiasa aman sentosa dan bahagia, maka anda harus mendorong pasangan anda supaya mau bersama-sama beramal.


Bila Anda berharap agar anak-anak Anda kelak tidak mendapatkan kesulitan dan segala sesuatu berjalan dengan lancar, maka ajarilah dia menghormati orang yang lebih tua, mencintai orang lain, dan membantu sesama dimana saja, kapan saja.

“Berbakti pada mertua”

Bila anda ingin agar putri anda bahagia setelah menikah, maka ajarilah dia “berbakti pada mertua”, maka mertua yang berkarakter “seaneh” apapun pasti akan terharu.


Bila anda tidak punya anak, dan ingin sekali mendapatkan anak, maka banyak kesempatan mendapatkan anak yang baik.


Bila Anda ingin beramal sekarang juga, maka beritahulah para tetangga, kawan-kawan, dan sanak keluarga anda tentang apa yang kutulis disini, dan nasehatilah mereka agar mau beramal.


Bila Anda mau memperluas belas kasih Anda, maka hubungilah kami. Dengan senang hati kami menyambut kesediaan anda yang mau membantu mencetakkan buku ini. Terima kasih.



6 kutipkan ini, semoga dapat bermanfaat bagi kita smua

1. Bila sedang mendapat angin, jangan mengambil kesempatan untuk menindas orang lain. Saat kita beruang, jangan berfoya-foya, menghamburkan uang dan hanya mementingkan kenikmatan diri sendiri. (Menikmati kesenangan material sama dengan mengikis jasa pahala).

2. Menipu orang, menindas orang, sama dengan mengikis jasa pahala. Belajar mengalah sama dengan menimbun jasa pahala dan keberuntungan.

3. Satu kali marah, sama dengan satu kali sakit berat. Maka walaupun dihina, kita harus belajar bersadar. Bila orang lain mencaci maki kita tanpa alasan, atau memfitnah kita, kita harus berterima kasih kepadanya, karena dia telah menghapuskan malapetaka kita, dan menimbun pahala bagi kita.

4. Berbuat amal, yang penting tidak perlu diketahui orang lain. Harus dilakukan dengan tulus, wajar, dan setelah itu tidak perlu diingat terus. Dengan demikian, walau amalnya kecil, namun pahalanya amat besar. Bila beramal dengan tujuan terselubung, dan berharap mendapatkan balas budi, maka walau beramal seumur hidup, pahalanya terbatas. Ini yang disebut “Nasib yang diam-diam ditentukan oleh Yang Maha Kuasa”.

5 Orang bijak jaman dulu pernah berkata : “Barang yang disimpan, belum tentu menjadi milik sendiri.” Karena harta kekayaan menjadi milik bersama 5 pihak. Bila api datang, maka segera menjadi abu:

bila air datang, maka segera terhanyut semuanya:

bila perampok atau pencuri datang, maka segera disikat habis:

bila ketemu pejabat yang korup, maka akan difitnah atau dijebak sehingga hartanya dirampas:

bila mempunyai anak durhaka, maka semua harta kekayaan akan dihambur-hamburkan sampai ludes.

Oleh karenanya, hanya dengan bersedekah untuk membantu sesama, baru benar-benar menjadi milik sendiri.

Bila dipikir lebih mendalam, dengan sendirinya akan dapat mengerti makna yang tersirat di dalamnya.

6. Orang yang tidak memiliki keberuntungan, saat menhadapi sesuatu dia selalu berpikir ke sisi yang buruk, maka yang diperoleh hanya penderitaan dan kegagalan. Orang yang memiliki keberuntungan, saat menghadapi sesuatu dia selalu memandang sisi baiknya, dengan sendirinya dalam perjalanan hidup ini dia sering menyumpai banyak keberuntungan yang sulit dimengerti: sehingga kemalangan dapat berubah jadi keberuntungan, dan bahaya dapat berubah menjadi aman.

“Menjaga mulut (kata-kata) dan memperbaiki etika (budi pekerti) mulut”

Bila kita melihat orang lain melakukan sesuatu yang baik kita harus menghormatinya dan memujinya dari lubuk hati. Kita tidak boleh merasa iri, namun harus mawas diri dan bertanya pada diri sendiri, apakah saya pun telah berbuat demikian? Bila saya juga telah berbuat baik seperti dia, maka harus merasa terhibur : seandainya saya masih belum mampu berbuat sepertinya, maka harus belajar padanya. Ini adalah hati yang penuh dengan suka cita.


Bila kita menyaksikan orang lain melakukan hal-hal yang merugikan sesama, kita jangan kritik dia, sebaliknya harus mawas diri, apakah saya juga berbuat demikian? Bila saya juga berbuat demikian, maka harus memperbaiki diri, kelak jangan melakukan lagi.


Dalam ajaran “Menjaga mulut (kata-kata) dan memperbaiki etika (budi pekerti) mulut” mengatakan bahwa, hal tersebut diatas sangat penting. Bila anda telah banyak berbuat amal, namun sering berbicara tentang keburukan orang lain atau berbohong, maka pahalanya akan semakin berkurang seiring dengan seringnya anda melakukan perbuatan tersebut.


Saya menasehati pada kalian agar “Saat duduk tenang, renungkanlah kesalahan diri sendiri: bila ngobrol jangan berbincang tentang kesalahan orang lain” Sekali-kali jangan melontarkan komentar-komentar yang dapat melukai orang lain, terutama terhadap orang yang lebih tua.


NASEHAT “MEMBALAS PERMUSUHAN DENGAN BUDI”

Nasehat orang, harus kita terima dengan rendah hati. Bila nasehatnya itu karena “kasih sayang”, walau dia mencaci maki saya, memukul saya, saya harus berterima kasih. Jangan sekali-kali menempatkan diri jauh di atas, hanya karena sudah berumur, berpendidikan tinggi atau kedudukan sosial tinggi, lalu merasa diri sendiri paling pinter, apa saja yang dilakukan selalu benar. Jika terjadi hal ini, sungguh patut dikasihani dan ditangisi.


Manusia bukan orang suci, siapa yang tidak pernah berbuat kesalahan? Kita tidak takut berbuat salah, yang ditakuti ialah tidak mau bertobat dan memperbaiki kesalahan. Inlah yang dikatakan oleh Nabi Konghucu “Memilih kebaikan dan teguh mempertahankannya”.


“bila bisa memaafkan, maafkanlah” : Jika anda sering memaafkan orang yang tidak sengaja berbuat kesalahan, dan tidak memperhitungkan kesalahannya, pasti dia akan terharu, sehingga dia berubah menjadi lebih baik. Ini adalah perbuatan amal yang tidak perlu mengeluarkan uang, mengapa tidak kita melakukan dengan senang hati?


Ada sebuah cerita tentang Pai Yi dan Su Chi., karena mereka tidak mempermasalahkan kesalahan dan kejahatan orang lain, maka mereka tidak mempunyai musuh. Bila kita semua memiliki semangat “Membalas Permusuhan dengan budi”, maka masyarakat kita akan tenteram dan damai.


Setelah membaca buku ini, tentu anda teringat betapa pentingnya berpartisipasi dalam memcetakkan buku-buku baik dan mengedarnya secara Cuma-Cuma.

Check Page Rank of any web site pages instantly:
This free page rank checking tool is powered by Page Rank Checker service

My Blog List

Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.

PayPal Account = camar8@yahoo.com